Talkshow Warna-warni Kehidupan Mahasiswa/i di Negeri 2 Benua

ppiistanbul.com- 15/02/2020, 16.30 (GMT+3)

Salah satu ruangan di kantor KJRI digunakan sebagai tempat berlangsungnya talkshow pada sabtu (15/02/2020)

penulis: Rizqina Fadila | editor: Hamdy

ISTANBUL, PPIISTANBUL.COM – Pelangi di sore itu. Sabtu (15/02) bertempatan di KJRI Istanbul. PPI Istanbul mengadakan talkshow bersama dengan teman-teman Rumah Kepemimpinan Indonesia.  Acara ini dihadiri oleh  3 narasumber di  Istanbul yaitu Dirhamsyah dari jurusan Teologi Islam, Adib dari jurusan political science, dan saudari Sarah dari islamic economic . Talkshow ini bertujuan  untuk saling bertukar informasi dan pandangan mengenai lika liku kehidupan sebagai mahasiswa Indonesia yang berkuliah di Istanbul, Turki.

 Acara ini dimulai dengan tilawah al-Quran, dilanjutkan dengan menanyikan lagu Indonesia Raya, dan kemudian sambutan dari Ketua Lembaga Dakwah Kampus Universitas Indonesia yaitu saudara  Ahmad Baehaqi yang sekaligus menjadi moderator dari acara talkshow ini.

Berbicara tentang perbedaan antar organisasi di indonesia dan istanbul, salah satu narasumber pada talkshow ini, Adib Lutfi yang juga merupakan Ketua PPI Istanbul periode 2019/2020 mengatakan bahwasannya organisasi mahasiswa di Turki atau di Indonesia itu tidak ada bedanya, secara sistematis sama, hanya saja organisasi mahasiswa di Turki khususnya Di Istanbul seringkali mengalami kesulitan dalam sentarilisasi lokasi untuk berkumpul karena tersebarnya mahasiswa yang ada di Istanbul baik daerah Asia maupun Eropa. Dari situ kami, PPI Istanbul memutuskan untuk menyesuaikan kondisi yang ada, karena apabila dituliskan sentralisasi lokasi maka khawatir akan menimbulkan kecemburuan sosial antar mahasiswa.

Dari tema organisasi talkshow berpindah ke ranah perbedaan metode pendidikan di Turki yang menghasilkan sebuah kebiasaan untuk mahasiswanya,  Ka Sarah Avicenna, mahasiswi master di Istanbul University menyampaikan bahwasannya metode yang dijalani setiap universitas itu berbeda, sistemnya beda, orang yang ditemukan juga beda. Tetapi, khusus di universitas ka sarah, mahasiswa lebih ambisius sehingga ka sarah pun terpacu untuk meninggalkan metode belajar SKS (sistem kebut semalam) yang dulu ia pakai saat menjadi mahasiswi di Univeristas Padjajaran.

Beralih ke tema terakhir yang diangkat pada talkshow kali ini yaitu pandangan narasumber terhadap orang turki yang sekuler. Menurut pendapat dari saudara Dirham sebagai mahasiswa Teologi Islam di Marmara University, secara sistem kepemerintahan, negara Turki  memang menganut paham sekuler dimana paham sekuler adalah paham yang memisahkan antara sistem pemerintah dengan agama. Contohnya, Masjid dilarang ditempatkan di wilayah Universitas sehingga mahasiswa yang ingin melaksanakan sholat harus keluar dari lingkungan belajarnya. Tetapi, hal itu tidak semerta merta mematahkan orang muslim untuk beribadah, apalagi sejak Presiden Necmetin Erbakan hingga sekarang Presiden Erdogan,  semangat islam itu bertambah dengan munculnya sekolah-sekolah islam di Turki contohnya Imam Hatip Lisesi.

Setelah berdiskusi tentangi 3 tema mengenai pendidikan, organisasi maupun negara turki itu sendiri, Moderator dapat menyimpulkan bahwasannya kehidupan di Turki itu penuh perjuangan bagaikan menerjang hujan yang sangat deras namun sederas apapun hujan pasti akan  segera berlalu dan meningalkan pelangi warna-warni yang menyinari daratan, sehingga hal yang patut ditanyakan kepada diri sendiri adalah apakah kita sanggup bertahan dalam derasnya hujan tersebut. Para narasumber berpesan kepada pemburu beasiswa luar negeri bahwasannya beasiswa di Turki itu banyak, beragam dan mudah diapat. Insyaa Allah mudah apabila terus berusaha mendaftarkan diri beasiswa ke manapun lalu tunjukkan bahwasannya diri ini pantas untuk mendapatkannya dan  tanpa melupakan 4 aspek yaitu memperbarui niat karena Allah, berdoa, berusah, dan bertawakkal kepadaNya!

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *